Daftar Blog Saya

Senin, 03 Januari 2011

DANAU DENDAM TAK SUDAH

Kisah Cinta Asmara Seorang Gadis yang Patah Hati


Alkisah pada jaman dahulu kala disebuah desa, didaerah dusun besar Bengkulu hiduplah seorang gadis yang cantik jelita, mungkin sedikit miriplah sama Luna Maya, namanya Esi Marliani.

Dia menjalin kasih dengan seorang pria yang tampan nan gagah perkasa, kalo cowok yg satu ini nggak mirip Ariel Peterpan loh, tapi kita anggap aja mirip sama pemeran Samson dalam film Samson and Delilah, namanya Buyung, untuk lebih lengkap namanya Susisnyo "Buyung" Yudoyhono, nama ini tidak ada hubungannya dengan lagu Susis yang dinyanyikan Sule atau burungnya Yudhoyono, apalagi sama Hamdi Haryono ya, singkat kata mereka memadu kasih begitu romantisnya, mereka sering bernyanyi sambil menari dibawah pohon cempedak, kadang tidak terasa kepala mereka sampai terantuk buah cempedak yang hampir matang loh, tapi hal itu tidaklah mereka perdulikan, mereka tetap saja asyik berkejaran mengelilingi pohon cempedak dan kadang mereka memanjat pohon kelapa muda atau berguling-gulingan direrumputan, merekapun tanpa malu-malu berayun-ayun diantara akar-akar pohon beringin seperti di film Tarzan and Jane.

“Aaaa. . .uuuoo . .uooooo . uooooooo.” Tiba-tiba "Gedebug . . !!" mungkin mereka terjatuh ya, atau mungkin mereka berayun terlalu semangat dan lose control sehingga menabrak buah cempedak, amboy, alangkah Mesranya cik, ...

Begitulah kisah indah cinta mereka, sampai-sampai rusa, tupai, biawak bahkan kambingpun iri melihat kemesraan mereka berdua, sungguh dunia serasa milik mereka saja, bagi mereka penghuni dunia yang lain hanyalah ngontrak bulanan saja, kadang bayar kadang nggak, bahkan sebagian bagi mereka, penghuni yang lainnya ada yang masih nyicil lewat VIP leasing juga, bukan leasing FIF yah, emang motor ? tapi sayang cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pemuda karena sang pemuda sudah dijodohkan dengan gadis dari desa tetangga anak gadis pak Lurah, si Upik Leha yang memiliki kecantikan layaknya bintang sinetron Nabila Sakieb.
betapa kecewanya hati si gadis Esi karena ternyata si Buyung ini juga mencintai anak gadis pak Lurah dari desa tetangga itu. Maklumlah pak Lurah ini sangat disegani dan dihormati didesanya karena beliau ini dulunya salah satu jebolan terbaik STPDN loh, kumis pak Lurah ini saja meruncing bak tanduk banteng, kalau berjalan prok, prok, prok ... dst.

Pada waktu musim kawin, biasanya menjelang lebaran Haji si Buyung dan anak gadis pak Lurah dari desa tetangga itu melangsungkan pernikahannya dengan sangat meriah, tak lupa Esi Marliani diundang dipesta itu, namun ia lebih memilih untuk tidak hadir dan mengurung diri dikamarnya, sambil memegang undangan biru yang diterimanya, dia memandangi cover undangan yang terdapat foto prawedding kedua mempelai dengan pose yang sangat romantis dan semakin membuat hatinya terluka saja.
Pada hari pesta pernikahan itu, kedua mempelai diarak berkeliling desa menaiki kereta kencana yang ditarik oleh dua ekor sapi (lambat sekali yah ?), kereta itu sudah dihiasi sedemikian rupa indahnya. Sementara, kasihan sekali si Esi dia mengurung diri didalam kamarnya,sambil memegang undangan dan mendengarkan lagu Tenda Biru by: Dessy Ratnasari, begitu terluka rasa hatinya diapun menangis tiadalah hentinya “Wooaaa...woaaa..waaaaaa, hiks..hiks..woaaaaaa alangkah pedih raso hati ambo ko yaow...” Tangisnya. Burung, kucing dan bebek angsapun turut menangis karenanya dia begitu dendam dengan si Buyung. Diapun berteriak sangatlah kencangnya, "Sungguh tega nian kauuuu yoo, Susisnyo Buyung Yudhoyono, pokoknyo ambo kini, DENDAM TAK SUDAH kek kauu tuuu, nianlahh . . . tengok kauu yoo ?!!" jeritnya dengan logat Bengkulu asli, maklum bokapnya asli orang pasar pantai, tepatnya daerah Malabero sementara nyokapnya peranakan Pagaralam dan suku Lembak, jeritannya ini sangatlah kuatnya hingga terdengar radius 5-6 km dan tentu saja terdengar kesetiap penjuru pelosok desa.

Ketika kedua mempelai diarak melewati kampungnya terjadilah keanehan yang diluar akal sehat manusia dan betul-betul nggak logika banget, linangan air mata Esi begitu derasnya hingga perlahan membanjiri kampungnya dan menenggelamkan iring-iringan arakan mempelai yang sudah dihiasi dengan beragam bunga warna-warni, sehingga semua penghuni kampung dan arak-arakan mempelai tenggelam oleh linangan air mata Esi yang akhirnya menjadilah sebuah danau. Tapi, uffss, sebentar . . , pembaca yang budiman…, ternyata tak jauh dari lokasi kejadian ada seorang Wartawan salah satu media massa terkemuka didesa itu berinisial WD yang selamat, karena dia berhasil memanjat pohon durian yang sangat tinggi, sang Wartawanpun sempat meliput kejadian itu dan meresume sumpah sigadis Esi Marliani dan mempublikasikannya melalui "Harian Ngayat Bengkulu" hingga kemudian tereksposelah kejadian tersebut hingga seantero Bengkulu, maka sesuai dengan kronologis yang diceritakan sang Wartawan bahwa danau itu berasal dari derai air mata sang kekasih yang patah hati ditinggal kawin oleh pujaan hatinya, ingat itu.



Linangan air mata Esi tersebut telah menjadi sebuah danau yang akhirnya diberi nama "DANAU DENDAM TAK SUDAH" Esipun ikut tenggelam oleh derai linangan air matanya. Saat ini danau tersebut menjadi danau yang sangat indah dan merupakan salah satu objek wisata flora, karena disana terdapat beragam bunga yang salah satunya puspa langka dan hanya tumbuh didaerah itu, yaitu anggrek pensil Vanda Hookeriana (mungkin bunga itu berasal dari bunga yang dipakai untuk menghias kereta kencana sang pengantin tadi, ya?) kita juga dapat menikmati keindahan danau sambil makan jagung bakar atau menikmati segarnya es kelapa muda dipinggiran danau.

Alkisah kedua mempelai kemudian berubah jadi sepasang ular tikar. mereka terkadang menampakkan diri dari kejauhan danau, sementara Esipun berdiri diatas kedua ular tikar tersebut, kakinya yang kiri menginjak ular yang cewek kaki yang kanan menginjak ular yang cowok persis seperti para bule yang sedang berselancar di film Baywatch. Ternyata Esi ini benar-benar dendam kesumat sama kedua mempelai sampai-sampai hingga akhir cerita ini saja dia masih menginjak-injak kedua mempelai, semoga dendam Esi berakhir sudah dan danaupun segera berganti nama menjadi Danau Idak Lagi Dendam.

Begitulah kisah dongeng yang sebenarnya dan tentu saja tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya kisah tentang "Danau Dendam Tak Sudah" versi saya.
Nah, Apakah anda adalah salah seorang yang ingin melihat keindahan puspa langka anggrek pensil Vanda Hookeriana atau anda penasaran ingin melihat Esi yang sedang berselancar dengan sepasang ular tikarnya? Silahkan ketik REG VISIT TO BENGKULU kirimkan uang sebanyak-banyaknya kerekening saya.
Hehehe ….

By: Hamdi Haryono, mendongeng suka-suka.

1 komentar:


  1. 'Would have been no stranger to you. Especially if you are already an adult when conflict
    bandar togel singapore terbaik indonesia

    BalasHapus