Daftar Blog Saya

Rabu, 15 September 2010

Mudik Lebaran

Kesempatan mudik kali ini saya sempatkan untuk mengajak keluarga berwisata kebeberapa tempat didaerah tanah kelahiran saya, saya dilahirkan di desa Tanjung Bulan, Kec. Kota Agung, Lahat, Sumsel, untuk mencapai lokasi hanya 50 menit dari Pagaralam dan butuh 35 menit saja menuju ke Lahat dengan menggunakan kendaraan, kecepatan rata-rata 60 km/h, letaknya persis diantara kedua kota tersebut. 


 Sedikit berbagi cerita, daerah Pagaralam, Lahat atau yang juga dikenal dengan bumi Besemah menyimpan kekayaan wisata prasejarah jaman purbakala dan peninggalan sejarah masa kejayaan kerajaan Sriwijaya, besarnya kerajaan Sriwijaya tentu sudah kita pelajari sejak Sekolah Dasar dulu, wajar saja bila bumi Besemah dinobatkan sebagai daerah cagar budaya terbesar kedua setelah jawa tengah, ini membuktikan bahwa dibumi Besemah ini memiliki peradaban yang sudah maju pada jaman prasejarah dan jaman sejarah dibandingkan wilayah lain di Nusantara, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya relief yang terdapat pada monumen nasional Jakarta, Besemah merupakan suku melayu dalam kawi kuno artinya; pelarian/ pengungsian dataran tiongkok yang dikenal dengan mongolith dan persia, mengenai asal usul orang Besemah sendiri sebenarnya masih tersaji dalam bentuk legenda rakyat atau keturunan dari Atung Bungsu yang merupakan salah satu dari 7 orang anak Ratu (-Raja-) Majapahit yang melakukan perjalan mengelilingi Nusantara dan berakhir di sungai Lematang Lahat dan memilih untuk menetap di desa Benua Keling (Benuang Galing).

Hingga pada jaman sejarah kerajaan Sriwijaya para ahli sejarah sebagian berpendapat bahwa pusat kerajaan Sriwijaya pertama berlokasi didataran tinggi Pagaralam ini dibuktikan dengan temuan-temuan benda arkeolog yang ada didataran tinggi Pagaralam dan dibeberapa tempat disekitar Pagaralam.

Sedikit mengetahui jaman prasejarah dan sejarah bumi Besemah seharusnya kita yang berasal dari daerah ini bangga sebagai jeme kite Besemah, pada jaman prasejarah saja bumi Besemah sudah memiliki peradaban yang maju, hingga jaman sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, Sriwijaya adalah sebuah kerajaan yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas pada masa kejayaannya, diantaranya; Kambodja, Thailand, Semenanjung Malaya, Kalimantan dan Sulawesi.

Namun sekarang jaman telah berubah, anak cucu jeme kite Besemah (orang kita Besemah) banyak yang lupa bahkan tidak mengetahui hal tersebut, sehingga malu bila mengakui diri orang dari daerah Pagaralam, Lahat atau Lintang Empat Lawang, Harusnya jeme kite Besemah kembali kepada semangat puyang leluhur dengan menunjukkan kepada dunia akan eksistensi jeme Besemah dengan prestasi yang lebih baik untuk pembangunan negeri ini, bukan dengan membanggakan asal daerah karena menjadi jagoan atau kepala preman dipelabuhan kapal, terminal atau pasar-pasar atau menjadi biang rusuh dimanapun berada atau menjadi bajing luncat didaerah Lintang Empat Lawang, Tebing Tinggi Kikim dan likuan ndikat jalan lintas Pagaralam - Lahat.
Bila dikaji agak kebelakang sedikit, tepatnya pada masa penjajahan kolonial Belanda dan Inggris, dapatlah diketahui bahwa orang asli Besemah memiliki watak yang keras seperti yang dituliskan oleh Governoor Jend. Sir Stf. Raffles "...Residen Manna diserang oleh orang-orang yang gagah dan tidak mengerti hukum dari wilayah Besemah...". Watak keras dan keberanian ini mencerminkan bahwa orang Besemah memiliki keperibadian yang kuat menentang penjajahan dan Wilayah Besemah adalah wilayah yang paling sulit ditaklukan oleh penjajah.

Ada satu sosok pribadi orang Besemah yang kasusnya menghebohkan dunia perpolitikan Indonesia di era kekuasaan SBY saat ini mengungkap banyak kasus korupsi terselubung di negeri ini dia memiliki keperibadian yang kuat, prestasi gemilang, memiliki watak yang keras dan bisa saja dia dijadikan contoh pribadi orang Besemah. Dia adalah mantan Kabareskrim Polri Komjen Polisi Susno Duadji, beliau adalah sosok orang Besemah asli.

kembali pada kesempatan mudik lebaran tahun ini, saya menyempatkan bersilahturahmi ke desa asal lahir ibu saya tepatnya didesa Airpuar (Mulak Ulu), untuk berziarah ke makam neneng cingkong dan neneng betine serta uwak saya yang telah meninggal, setelah itu saya tertarik menuju ke desa Geramat asal kata Keramat untuk berwisata sejarah kelokasi patung batu jaman megalitikum yang menyerupai seekor harimau sedang duduk tanpa kepala dan orang yang sedang menggendong bake dan memukul gendang peninggalan jaman




Tidak ada komentar:

Posting Komentar